Rumah Sunnah
VIEW : 325

Fenomena Manusia Kembar dengan Buaya

12 jam · Disunting · 
Fenomena Manusia Kembar dengan Buaya
=================================================
Bismillah, segala puji hanya bagi Allah, solawat serta salam bagi kekasih alam, baginda Nabi Muhammad SAW, beserta sahabat, kerabat, dan umat yang berpegang teguh pada sunnah.
Alhamdulillah, Allah masih memperkenankan jemari ini untuk menggoreskan pena sehingga menghasilkan sebuah tulisan atas pengalaman.
Mitos kembar dengan buaya nampaknya sudah menjadi budaya bagi sebagian kalangan masyarakat Bugis-Makassar..
Sebagai seorang Muslim yang beriman dan berpikir tentu tidak seharusnya kita percaya akan adanya mitos tentang manusia kembar buaya ini. Bagaimana mungkin seorang manusia melahirkan bayi kembar manusia dan buaya? Ketika berfikir secara logika tentunya tidak mungkin, gen yang dibawa oleh manusia dan buaya saja sudah berbeda. Namun bagi sebagian masyarakat Bugis-Makassar yang masih mempercayai akan adanya hal tersebut, diyakini dapat memberikan mereka peruntungan jika memelihara dan memperlakukannya persis dengan kembaran manusianya.
Saya kerap kali menemukan akhwat yang diyakini memiliki kembar buaya ini, ada yang karena sakit usus buntu, migran, maag akut, sering pingsan, dan karena sering kesurupan. Tidak sengaja terbongkar kedoknya saat ada mahasiswi yang pingsan, saya bacakan Alfatihah ia langsung berteriak kesakitan.
Berdasarkan pengalaman di lapangan, orang yang kembar dengan buaya ini biasanya turun-temurun dari generasi kegenerasi pada suku Bugis dan Makassar, yang tradisi dan ritul-ritualnya tak bisa terelakkan, hingga generasi penerusnya. Dan jika sengaja mengabaikan maka akan mengalami semacam kejadian–kejadian aneh yang tidak bisa diterima dengan akal sehat manusia. Untuk menelusuri asal muasalnya kepercayaan ini tentu susah mencari sumbernya karena sudah melewati banyak generasi.
Biasanya, orangtua yang anaknya memiliki kembaran buaya ini memiliki kemampuan dapat menyembuhkan sakit, bisa meramal, mampu melihat makhluk halus, pada tahapan tertentu ia bisa menjadi dukun.
Cara mengobatinya pun beragam, ada dengan meludahi tempat yg sakit, cukup meniupnya, menjilat. Kemudian bisa mengetahui kejadian masa lampau namun dalam keadaan kesurupan sehingga yang menyampaikan adalah jin yang ada di tubuhnya, dan ada pula yang dibisiki oleh jin. Sementara mendengar bisikan, sang dukun berpura-pura membaca Alquran.
Namun yang sangat disayangkan, mereka tidak menyadari bahwa anaknya telah menjadi tumbal atau korban atas praktek yang ia lakukan. Pasalnya jin seolah membuat ia merasa seolah dapat memberikan manfaat pada orang lain, padahal tidak ada jin yang memberikan bantuan tanpa imbalan, jika tdk ingin disebut tumbal. DI sisi lain, jin juga kerap berpura-pura mengingatkannya agar menjaga ibadah, ada yg mengaku sering dibangunkan untuk solat tahajud, mendapat penjagaan, dan mengetahui ketika ada orang yg mau menjahati atau menyantet dia. Padahal semua adalah tipu daya jin. Allah sudah mengingatkan tentang tipu daya jin ini dalam FirmanNya.
Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. 72:6)
Malaikat-malaikat itu menjawab:”Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS. 34:41)
Benar saja. Kebanyakan dari anak mereka, yang memiliki kemampuan tersebut akhirnya juga mengalami hal serupa, kembar dengan buaya, mulailah ia sering kesurupan bertingkah seperti buaya yang diyakini bahwa itu adalah kembarannya. Jika ia kesurupan, pasti meminta makan. Cara memberi makannya pun macam-macam, ada yang dilarutkan ke sungai, ada yang harus dibuatkan ranjang, dibelikan baju dan topi, dibacakan ayat Alquran, dll.
Tidak cukup sampai disitu, sang anak juga mengalami sakit, usus buntu, maag akut, tives, dan biasanya selalu mengalami kesurupan. Saya pernah meruqyah seorang mahasiswi kesurupan masal di kampus, salah satunya mahasiswi kembar dgn buaya. saat meruqyah tiba2 sang ibu datang dan merangkul anaknya dengan jin nya yg sudah payah. “Mama tolong aku, mereka jahat…” ujar jin berbicara melalui lisan anaknya”
“Ibu anak ibu sedang kesurupan”
“Ini anak saya, ini kembarannya, dia kembar dengan buaya”
Saya kaget dan menegaskan bahwa tdk ada manusia kembar dgn buaya. namun sang ibu malah membantak saya.
“Saya ini ibunya, saya yg melahirkannya, saya lebih tahu”
“Ibu, mana ada manusia kembar dgn buaya, ini setan dalam jasadnya, tidak ada, dusta itu semua, buktinya saya bacakan Alquran dia kepanasan, inikah anak ibu?”
Ibu diam, sementara sang ayah hanya diam seribu bahasa saat istrinya saya bentak balik. (Padahal takut juga kalau si suami tersinggung, eh ternyata suaminya takut sama istri)
Alhamdulillah malam itu, ibu tersebut sadar dan meminta saya meruqyah anaknya kembali hingga tuntas. Namun tdk tuntas, dan tidak akan pernah tuntas, selama sang ibu tdk mau membuang ilmu-ilmunya atau memutus hubungan dengan jin. selain itu sang anak juga tdk istiqomah dengan ibadahnya. Ibu tersebut memiliki 2 anak perempuan, dan keduanya mengalami hal serupa, sering kesurupan, usus buntu dan telah dioprasi. Sementara sang kakak, sudah tidak pernah kesurupan setelah ia menikah. Namun bukan berarti jin sudah tidak ada lagi ditubuhya.
Seperti yang dialami oleh istri seorang teman, tidak pernah kesurupan lagi setelah menikah. Tapi gangguan lain yg ia alami adalah emosi susah terkendali, kram tubuh bagian kiri, terutama kaki, dan jauh dari ibadah. Alhamdulillah kami dipertemukan, saat sang suami mengikuti pelatihan ruqyah yang saya adakan (insya Allah, kisahnya akan saya tulis secara khusus).
Menurut informasi yang berhasil saya himpun, jika orang yang punya keturunan kembar buaya ini menikah, dia harus melakukan “bebuang” semacam sesaji yang berbentuk kapal dari daun pisang yang berisi telur, lilin, kacang-kacangan dan di hayutkan dilaut dengan bantuan orang pintar (sandro). Disertai ikatan benang kuning di tangannya sewaktu bersanding atau mengucapkan akad nikah. Jika ritual ini tidak di laksanakan oleh orang yang bersangkutan, maka akan terjadi kejadian aneh-aneh semasa pesta perkawinannya.
Pada akhirnya saya tegaskan semua adalah tipu daya setan. Semoga bisa menambah khazanah pengetahuan, terutama bagi diri saya pribadi yg berupaya mengikat ilmu dengan tulisan.
Adapun kebenaran dan yg baik semua datang dari Allah, sementara kesalahan dan yg buruk dari saya pribadi, mohon dimaafkan.
Wallau ‘alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *